Oleh: Andi Arsana | Januari 27, 2009

Kunjungan Konjen: Arti sebuah fleksibelitas

bersama

Jam 10.15 pagi tanggal 24 Januari 2009, Communication Centre yang berlokasi di gedung 20, sebelah utara perpustakaan kampus University of Wollongong sudah terlihat ramai. Beberapa meja berdekorasi kain prada khas Bali nampak berjejer. Di dalam gedung duduk-duduk beberapa anak remaja, sumringah untuk segera bertugas. Di pojok lain nampak beberapa Ibu dan Bapak menyiapkan ini dan itu, semua nampak semangat. Ini adalah hari yang telah lama dipersiapkan: silaturahmi masyarakat Indonesia di Illawara dengan Konsulat Jendral RI Sydney. Setelah menyiapkan segala sesuatunya dengan rapat dan pembagian tugas yang baik, hari yang dinanti-nanti itupun tiba.

Bang Regi dengan pasukannya sibuk menyiapkan sarana kebersihan sedangkan Pak Uli dan Ibu Uli mengkoordinir penyiapan konsumsi. Mas Ari dan Andi sibuk menempel tanda petunjuk arah agar masyarakat yang datang dan tidak akrab dengan suasana kampus tidak tersesat. Pak Timmy dan Mas Budiyono dibantu sukarelawan menyiapkan alat musik andalannya untuk menghibur masyarakat dan Konjen hari itu. Pak Safril dan Pak Rudi nampak siap dengan kamera andalannya untuk mengabadikan momen penting hari itu. Krishna sebagai ketua Panitia menyempatkan diri untuk meneliti satu demi satu persiapan, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Ibu Amie membawa catatan acara ke mana-mana dan mengkonsultasikan dengan beberapa orang tentang beberapa mata acara. Pak Robinson sebagai koordinator acara juga sibuk memastikan ini dan itu demi kelancaran acara. Dari semuanya, tentu saja tim konsumsi yang paling sibuk mengangkat makanan dan minuman dari parkir ke tempat acara. Sukarelawan yang sebagian besar adalah mahasiswa S1 (Mas Oshoo dkk) dengan bersemangat membantu pemindahan konsumsi tersebut.

Seperti bisa diduga, undangan yang sesungguhnya jam 10.30 tidak seperti yang diharapkan. Setelah jam 11.00, terlihat mahasiswa dan residen mulai memenuhi lokasi acara. Dari sekian undangan, banyak yang terlihat membawa anak balita, ada juga yang membawa serta putra putri usia sekolah dasar hingga remaja.

Jam 11.54 ada sms dari Pak Edy Wardoyo, seorang konsuler Konjen Sydney menyampaikan rombongan dalam perjalanan dan jalanan sedang macet. Keterlambatan ini sebenarnya juga sudah diduga. Yang masih menjadi tanda tanya adalah apakah Bapak Konjen, Sudaryomo, akan bisa datang atau tidak. Menurut kabar terakhir, Pak Konjen baru tiba di Sydney pagi hari itu dari tugas perjalanan ke Jakarta. Masyarakat Illawara tentunya berharap bertemu Bapak Konjen walaupun akan maklum jika beliau tidak bisa datang mengingat baru tiba dari Jakarta.

Jam 12.15 panitia berinisiatif untuk mengundang masyarakat masuk ke ruangan utama, meskipun tamu yang ditunggu belum datang. Di dalam ruang 1 di Communication Centre, semua sudah terlihat siap. Di depan nampak dua layar besar dengan dekorasi power point yang sederhana elegan bertuliskan Silaturahmi masyarakat Indonesia dengan Konsulat Jendral Sydney. Bersamaan dengan berkumpulnya masyarakat di ruangan, sebuah lagu lama dari Gombloh berkumandang. ”Indonesia, merah darahku, putih tulangku…” demikian bunyi salah satu barisnya. Ada perasaan berbeda mendengarkan lagu Indonesia di tanah rantau.

Jam 12.45 tamu Konjen belum juga tiba. Jalanan memang rupanya macet karena ini adalah long weekend. Hari Senin depan, 26 Januari 2009, adalah libur Australia Day. Dengan perundingan matang, panitia mengambil langkah tepat, masyarakat dipersilahkan menikmati hidangan jam 1.00 tanpa ataupun dengan tamu dari Konjen. Keputusan ini tentu saja disambut gembira oleh sebagian besar masyarakat yang sudah nampak gelisah karena perlu asupan nutrisi. Kegelisahan ini bertambah tentunya karena banyak anak-anak yang sudah merasa lapar. Pengumuman dari Krishna tentang acara makan ini disambut tepuk tangan meriah dan semangat oleh semua orang yang hadir di ruangan. Selanjutnya, bergeraklah rombongan dari ruang 1 menuju depan gedung tempat makanan disajikan.

Berbagai makanan dan minuman yang mengundang selera digelar. Beraneka minuman dijejer di atas meja, mulai dari jus hingga soft drink, mulai dari air putih hingga es buah. Makananpun berupa-rupa, mulai dari ikan hingga ayam, saladpun tak ketinggalan. Buah juga tersedia, ada anggur, ada nanas dan sebagainya.

Masyarakat mengantri dengan tertib saling mempersilakan. Nampak semua gembira dan bersemangat. Sambil mengantri, orang-orang saling berkelakar. Yang belum kenal satu sama lain nampak berkenalan dan mengakrabkan diri. Percakapan berlangsung dengan beragam topik, politik amatir tentunya tetap menjadi topik penting layaknya kebiasaan orang-orang Indonesia ketika berkumpul. Percakapan lain seputar mencari akomodasi dan persiapan kuliah bagi mereka yang baru datang tentu juga ramai menjadi pembicaraan. Pengalaman kurang nyaman yang menimpa saudara kita, Pak Rusli, tentu juga menjadi pelajaran penting bagi mereka yang baru datang. Sukarelawan yang membantu urusan konsumsi seperti Ibu Ade Garda, Mbak Dian, Ibu Andriani, Mbak Nurul, Ibu Oyong, Ibu Yeni, mbak Novi dll. dengan antuasias melayani tamu dan masyarakat.

Saat sedang asik mengantri makanan tiba-tiba rombongan Konjen datang. Terlihat Pak Edy dan Mas Dani bergegas menerobos kelompok masyarakat. Pak Pratito juga muncul di belakang mereka. Selain itu nampak tiga orang lain yang ternyata adalah seorang mahasiswa UGM, seorang anak SMK di semarang dan bapak gurunya. Belakangan diketahui bahwa ternyata mahasiswa dan siswa ini adalah para memenang lomba penulisan yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri. Sebagai hadiah, mereka diberi kesempatan jalan-jalan ke Sydney dan diajak serta ke Wollongong dalam kunjungan Konjen kali ini.

Melihat kedatangan para tamu panitia tentu saja menjadi sibuk dan ada yang menghentikan acara makan masing-masing. Sepertinya delegasi Konjen mengerti, karena keterlambatan ini maka mereka mendapati masyarakat sedang menikmati makan siang. Setelah itu terlihat menyusul Pak Yon Sumaryono, ketua Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) wilayah New South Wales, Queensland, dan South Australia. Pak Yon adalah warga negara Indonesia yang sudah menjadi permanent resident di Australia sejak lama.

Akhirnya rombongan Konjen pun dipersilakan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Dari percakapan dengan delegasi Konjen, diketahui bahwa Bapak Sudaryomo bersedia hadir tetapi agak terlambat karena baliau baru tiba dari Jakarta. Panitia dan masyarakat tentu saja merasa gembira. Yang tadinya meragukan kedatangan Bapak Konjen kini menjadi yakin. Kami semua menunggu kedatangan Konjen sambil menikmati santap siang. Suasana makan siang menjadi lebih menyenangkan karena alunan musik dan lagu dari artis-asrtis Wollongong. Pak Timmy beraksi dengan kualitas musik yang sudah tidak diragukan. Hentakan musiknya yang memukau disempurnakan oleh alunan suara dari Mbak Dian, Bang Regi, Mas Budiyono dan Mbak Ira.

Di sela-sela menikmati hidangan Pak Timmy mengundang Pak Uli untuk menyanyi sebuah lagu Batak. Para penikmat hidangan pun menyambut meriah. Bang Regi berinisiatif untuk mendampingi Pak Uli dan terdengarlah duet Batak yang memukau. Di tengah alunan lagu Batak yang merdu, Pak Pratito menerima telepon dari Pak Konjen, beliau ternyata sudah ada di kampus University of Wollongong. Setelah diberi petunjuk melalui telepon, Pak Sudaryomo muncul dari sisi timur Communcation Centre. Beliau segera menyalami hampir semua orang. Yang sedang menikmati hidangan sedikit kaget sekaligus senang karena Pak Konjen akhirnya tiba di tengah-tengah masyarakat.

Pak Konjen datang dengan pakaian yang semi formal dan sederhana. Gayanya yang tidak birokratis dan berusaha akrab dengan siapa saja membuat suasana jadi tidak kaku. Pak Uli yang sedang bernyanyi menyempatkan diri untuk menyalami Pak Konjen sebelum kembali melanjutkan lagunya yang terpotong. Pak Konjen berjalan melewati semua orang dan menyalami satu per satu hingga sampai di meja ujung tempat Pak Nadir dan kolega menikmati hidangan. Pak Nadir dan Pak Kreno yang ada di meja itupun menyalami Pak Konjen dan melayani beliau bercakap-cakap.

Sejurus kemudian, Pak Konjen sudah ikut menikmati hidangan sambil berdiri dan ngobrol dengan siapa saja di dekat beliau. Sempat juga Pak Konjen mendatangi anak-anak muda mahasiswa S1 yang bertugas di meja tamu untuk ngobrol santai. Beliau masih memegang piring kotornya yang kosong saat bercakap-cakap. Ketika Mas Dani menawarkan untuk membuang piring tersebut, Pak Konjen menolak sopan dan beliau membuang sendiri piring kotor tersebut. Sebuah kejadian kecil yang menunjukkan kualitas seorang pemimpin yang baik.

Di sela makan siang terdengarlah sebuah gamelan tarian Indonesia dan ternyata Mbak Indah sudah siap beraksi dengan tarian ” Ronggeng Betawi”. Dengan lincah Mbak Indah memperagakan sebuah tarian indah mempesona. Gayanya yang bak penari profesional berinteraksi dengan penonton membuat semua antusias. Yang membawa kamera tidak mau ketinggalam momen ini dengan mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Gaya tarian yang indah dan senyum menggoda yang dipamerkan Mbak Indah membuat suasana semakin seru. Penonton tak henti-hentinya bertepuk tangan.

Lepas menyantap hidangan, panitia meminta masyarakat masuk ke ruang 1 karena acara inti akan dimulai. Semula, acara makan siang disiapkan sebagai penutup tetapi karena keterlambatan maka makan siang menjadi acara pembuka. Acara inti justru dimulai setelah makan siang. Di sinilah nampak arti penting fleksibelitas panitia, tamu dan terutama masyarakat yang sabar dan tetap mendukung kebijakan panitia.

Ibu Amie selaku MC membuka acara pada pukul 2.14 sore dengan menyampaikan selamat datang serta terima kasih kepada undangan dan masyarakat Indonesia. Tanpa berpanjang-panjang, Ibu Amie segera meminta Krishna selaku ketua panitia untuk memberikan sambutan. Krishna memberikan pemaparan singkat memenuhi permintaan pembawa acara. Di tengah pidatonya Krishna sempat berkelakar, berterima kasih atas kunjungan yang istimewa ini karena merupakan yang perdana setidaknya dalam satu dekade ini. Hadirin pun tertawa mendengar lelucon kontekstual yang menggelitik ini. Namun begitu, Krishna tidak lupa menyampaikan apresiasi yang dalam kepada pihak Konjen, terlebih kepada Bapak Konjen yeng menyempatkan diri ke Wollongong meski baru tiba dari Jakarta. Krishna juga menyampaikan terima kasih atas kedatangan masyarakat Indonesia dan mengapresiasi kerja keras panitia.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Bapak Sudaryomo selaku Konjen. Beliau mulai dengan sebuah kelakar bahwa lagu Batak ternyata lebih populer dibandingkan segala petunjuk lain di kampus Wollongong. Rupanya, ketika memasuki kampus Wollongong, Pak Konjen berhasil menemukan lokasi acara bukan karena petunjuk gedung ini atau itu, tetapi karena mendengar lagu Bapak sedang berkumandang. Hadirin pun tertawa mendengar kelakar itu. Selain itu Pak Konjen juga menyampaikan apresiasinya atas sambutan masyarakat Illawara/Wollongong yang antusias. Lagi-lagi beliau berkelakar bahwa hari ini ada dua pilihan kegiatan yaitu bertemu Duta Besar Indonesia untuk Australia dan bersilaturahmi dengan masyarakat Wollongong. Beliau merasa tidak punya pilihan lain kecuali menemui masyarakat Wollongong karena kesempatan bertemu Bapak Dubes sudah sering dan masih akan sering terjadi. Hadirin pun bertepuk tangan.

Inti dari sambutan Bapak Konjen adalah soal pemilu 2009. Beliau mengharapkan partisipasi aktif masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Dalam bahasa yang dramatis, beliau mengingatkan bahwa suara masyarakat akan menentukan nasib bangsa ini ke depan. Pak Konjen juga memberi apresiasi atas dedikasi Pak Yon selaku ketua PPLN karena beliau sedemikian antusias dan bersemangat untuk terlibat menyukseskan pemilu tahun ini seperti juga tahun 2004. Pak Konjen berharap kepada masyarakat agar meneladani dedikasi beliau dan berpesan agar informasi yang diperoleh hari ini disampaikan kepada kolega yang tidak sempat hadir. Terakhir Pak Konjen berharap agar di Wollongong atau Illawara dibentuk suatu komunitas yang menjadi wadah masyarakat Indonesia.

Bapak Yon Sumaryono memenuhi permintaan Ibu Amie untuk memberi penjelasan perihal pemilu 2009. Beliau mulai dengan sekilas sejarah pribadi keberadaannya di negeri kangguru ini. Pak Yon adalah seorang pelajar Indonesia yang menempuh pendidikan di Sydney University tahun 1962. Setelah menyelesaikan pendidikan beliau kembali ke tanah air untuk mengabdi. Karena tersedianya peluang, akhirnya beliau kembali ke Sydney untuk mengambil kesempatan menjadi dosen di Unviersity of Sydney. Hingga kini Pak Yon sudah tinggal di Sydney selama 45 tahun.

Soal pemilu, Pak Yon mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia sudah diakui sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan India. Hal ini semestinya mengingatkan kita untuk menggunakan hak demorasi kita di pemilu tahun ini. Senada dengan itu, Pak Yon juga mengingatkan bahwa teorinya, masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri dianggap memiliki pemahaman yang baik akan makna demokrasi. Oleh karena itu kita harus menunjukkan keteladanan dengan menggunakan hak pilih dengan baik, demikian beliau berharap. Sejalan dengan Pak Konjen, Pak Yon juga mengingatkan makna suara masyarakat untuk menentukan nasib bangsa di masa depan. Yang cukup menarik adalah kenyataan bahwa seluruh suara masyarakat Indonesia di luar negeri akan disalurkan melalui daerah pemilihan Jakarta II dan hanya untuk DPR saja, tidak untuk DPRD. Meski sedikit mengundang pertanyaan, rupanya demikianlah aturan yang sudah ditetapkan.

Bapak Pratito, akrab dipanggil Pak Tito, yang menjadi penanggung jawab pemilu dari pihak Konjen melanjutkan penjelasan Pak Yon dengan memberi informasi yang lebih teknis. Satu informasi penting yang beliau sampaikan adalah segala informasi tentang pemilu ada di http://www.pemilusydney2009.com. Sebelum menyampaikan pemaparannya Pak Tito menayangkan sebuah video online di YouTube yang ternyata adalah himbauan Pak Konjen kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu. Model ’kampanye’ dengan video online seperti ini rupanya kini menjadi trend. Sebuah kampanye lewat dunia maya yang berhasil gemilang sudah ditunjukkan dengan kemenangan Barack Obama menduduki kursi kepresidenan Amerika Serikat.

Pak Tito menegaskan waktu pemilihan legislatif adalah tanggal 9 April 2009 diikuti dengan pemaparan syarat menjadi pemilih. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk melakukan pendaftaran bisa ditempuh empat cara yaitu secara online di website pemilu Sydney, sms, surat atau fax, dan datang langsung pada hari H dengan membawa paspor. Terkait pelaksanaan pemungutan suara Pak Tito menjelaskan tentang Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri atau KPPSLN dan syarat-syaratnya. Intinya jika suatu kawasan ingin memiliki Tempat Pemungutan Suara (TPS) sendiri, harus ada KPPSLN yang beranggotakan tujuh orang. Wollongong diharapkan bisa memiliki TPS sendiri untuk menjaring kuantitas pemilih lebih banyak.

Ketika menjelaskan soal tatacara pemberian suara, Pak Tito menegaskan bahwa kali ini pemilu dilakukan dengan cara mencentang dan tidak lagi mencoblos. Saat ditanya alasannya, Pak Yon diminta memberikan sebuah cerita. Pak Yon mengatakan bahwa di dunia ini, hanya ada dua negara yang mencoblos dalam pemilu yaitu Indonesia dan satu negara di Afrika. Pak Tito menambahkan dengan kelakar, ”jadi kita pilih mencentang karena suda bisa baca tulis dan tidak ingin disejajarkan dengan negara di Afrika” yang disambut riuh tawa hadirin.

Berakhirnya penjelasan Pak Tito juga mengakhiri sesi penjelasan pemilu. Selanjutnya Ibu Amie mengundang Bapak Nadir untuk bertindak selaku moderator, memandu tanya jawab antara pihak Konjen dengan masyarakat Indonesia. Ibu Amie juga memberikan informasi kepada Konjen bahwa topik yang akan ditanyakan mungkin beragam, tidak hanya seputar pemilu.

Pak Nadir menempati mimbar dan memulai acara dengan memperdengarkan sebuah lagu. Mengalunlah lagu yang menggugah perasaan dari YouTube ”tanah airku tidak kulupakan….” dan seterusnya dilatarbelakangi indahnya alam dan kayanya budaya Indonesia. Setelah itu, Pak Nadir berbasa-basi sejenak dan mulai mempersilahkan tiga penanya. Pertanyaan pertama disampaikan Ibu Sa’ad [maaf kalau salah tulis] perihal kemungkinan anak keduanya untuk menjadi permanent resident (PR) atau temporarry resident (TR mengikuti anak pertamanya yang sudah menjadi TR. Beliau menanyakan adakah kemungkinan adopsi dilakukan oleh kakaknya terhadap adiknya. Hal ini sedikit menyegarkan suasana dan hadirian pun tertawa. Bapak Konjen menjawab pertanyaan ini dengan menyampaikan bahwa syarat utama TR atau PR adalah keahlian dan pendidikan. Beliau pun sedikit berkelakar menyatakan ketidaktahuan beliau akan kemungkinan seorang kakak mengadopsi adik kandungnya.

Pertanyaan kedua disampaikan oleh Bapak Garda perihal pembentukan KPPSLN di Wollongong. Pertanyaan mendasarnya adalah apa perlu warga Wollongong memiliki TPSLN dan KPPSLN sendiri. Pak Garda menyampaikan concernnya perihal kesiapan masyarakat untuk menyelenggarakan pemilu sendiri. Pertayaan ini ditanggapi oleh Pak Yon yang mengatakan bahwa pelaksanaan pemilu sendiri oleh masyarakat Indonesia di Illawara/Wollongong ini bersifat himbauan dan bukan instruksi yang tentunya masih perlu didiskusikan oleh masyarakat. Pak Tito menambahkan bahwa pemerintah menyiapkan dana untuk penyelenggaraan pemilu ini sehingga petugas akan mendapat honor. Sambil berkelakar Pak Tito mengatakan security akan mendapat dua kali makan sambil melirik ke arah Pak Timmy dan Pak Nadir. Hadirin pun tergelak. Pak Tito juga menambahkan, masih ada beberapa hal yang didiskusikan di Jakarta sehingga belum semua hal terkait pemilu bisa dipastikan, seperti jadwal, misalnya.

Pak Timmy menyampaikan pertanyaan atau lebih tepatnya komentar ketiga terkait musibah yang menimpa Pak Rusli, salah satu mahasiswa di University of Wollongong. Pak Timmy berterima kasih atas perhatian Konjen dan berharap Konjen selalu mengawal penyelesaian kasus Pak Rusli hingga tuntas. Selain itu Pak Timmy berharap Konjen lebih sering melakukan kunjungan ke Wollongong. Pak Konjen menanggapi ini dengan menyampaikan bahwa perlindungan terhadap masyarakat Indonesia adalah salah satu tugas utama Konjen. Ini merupakan salah satu bentuk pelayanan wajib perwakilan Indonesia di luar negeri. Beliau menegaskan, jika gagal melayani dan melindungi masyarakat maka tamatlah riwayat Konjen atau Dubes tersebut. Oleh karena itu, Konjen menegaskan agar masyarakat tidak ragu-ragu menyampaikan apa saja terkait masyarakat Indonesia di Wollongong.

Pada sesi kedua Pak Rusli giliran angkat bicara. Dengan penuh haru beliau menyampaikan apresiasinya atas dukungan masyarakat Indonesia dan Konjen saat beliau mengalami kecelakaan ledakan kompor beberapa waktu lalu. Satu hal yang masih mengganjal hingga saat ini adalah perlunya untuk menempuh jalur hukum. Untuk hal ini Pak Rusli ingin berhitung secara cermat agar proses menuntut keadilan ini jangan sampai mengganggu studinya. Beliau memerlukan masukan dari Konjen untuk memutuskan ini. Hal kedua yang disampaikan Pak Rusli terkait kemungkinan mendapatkan konsesi atau keringanan biaya seperti transportasi dan biaya uang sekolah anak bagi mereka yang tidak menerima beasiswa dari Pemerintah Australia. Mahasiswa Indoensia yang dibiayai oleh Dikti seperti Pak Rusli, memang tidak mendapatkan konsesi transportasi dan merekapun harus membayar mahal untuk sekolah anak mereka. Hal ini berbeda dengan mereka yang didanai oleh Pemerintah Australia melalui AusAID. Sementara itu, kebijakan di New South Wales (NSW) ini berbeda dengan negara lain seperti South Australia.

Untuk pertanyaan pertama, Pak Konjen meminta Pak Edy Wardoyo membantu Pak Rusli terkait penempuhan jalur hukum. Sementara untuk pertanyaan kedua Pak Konjen menyatakan bahwa pihak Konjen sudah berkomunikasi dengan Department of Education and Training, DET, Australia namun hingga kini belum mendapat respon yang positif. Konjen dengan segala upaya masih tetap akan memperjuangkan hal ini namun sepertinya tidak bisa secepat yang diharapkan. Selain berupa komunikasi formal, Konjen juga memberikan semacam ’ancaman’ bahwa jika pemerintah NSW tidak bisa memberikan keringanan kepada mahasiswa Indonesia (internasional), Konjen akan menyarankan pemerintah Indonesia agar tidak mengirim mahasiswanya ke NSW, melainkan ke negara bagian lain yang memberi konsesi. Konjen juga akan merangkul universitas di NSW untuk membuat gerakan moral ini memiliki kekuatan yang lebih besar lagi.

Pertanyaan kedua disampaikan oleh Bang Regi terkait tatacara mendaftar pemilu. Bang Regi yang sibuk dengan urusan kebersihan rupaya tidak sempat menyimak penjelasan panitia pemilu yang disampaikan sebelumnya. Hal ini ditanggapi oleh Pak Tito dengan mengulang sekali lagi cara pendaftaran pemilu berupa online, sms, surat/fax dan datang sendiri ke TPS dengan membawa paspor. Setelah itu Pak Herry bertanya tentang penggunaan SIM Indonesia di Australia dan mengusulkan agar penerjemahan SIM Indonesia oleh Konjen digratiskan saja.

Pak Edy Wardoyo menanggapi pertanyaan ini dengan menyampaikan bahwa SIM terjemahan yang dilakukan oleh Konjen itu berlaku untuk kepentingan mengemudi. Hanya saja untuk kepentingan asuransi, mereka memerlukan SIM Australia. Oleh karena itu Pak Edy menghimbau agar masyarakat tetap berusaha mencari SIM Australia. Sedangkan untuk pembayaran terjemahan, secara singkat Pak Edy menjawab bahwa ini adalah aturan Departmen Keuangan dan semua itu masuk ke negara, bukan ke Konjen, apalagi pribadi penerjemah, sama sekali bukan. Tertib administrasi keuangan ini misalnya ditunjukkan dengan pembayaran yang dilakukan dengan Electronic Financial Transfer (EFT) melalui kartu ATM atau money order dan tidak lagi menerima pembayaran cash.

Pak Konjen menambahkan bahwa aturan di negara ini sedikit lucu soal SIM. Beliau sendiri ketika datang ke Australia pertama kali bisa dengan mudah menukar SIM Indonesia dengan SIM Australia tanpa tes di sebuah kantor Road Trafic Authority (RTA). Hal ini ternyata tidak terjadi dengan istri beliau. Lucunya, aturan ini tidak berlaku seragam antara RTA satu dengan lainnya. Ada kasus bahwa di satu RTA tidak bisa tetapi di RTA lainnya bisa. Perbedaan ini juga terjadi dalam hal keketatan kelulusan dalam memperoleh SIM. Ada kejadian bahwa di satu RTA seseorang tidak lolos tetapi ketika mengulang di RTA lainnya, dia bisa lolos padahal dengan kecakapan mengemudi yang tidak jauh berbeda. Hal ini tentu saja mengundang tawa hadirin, terutama mereka yang baru datang. Mereka terheran-heran bahwa keanehan ini juga terjadi di first world seperti Australia.

Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang hendak diajukan oleh masyarakat namun waktu tidak mengijinkan. Pak Nadir dengan terpaksa harus menghentikan diskusi yang seru itu dengan berpesan bahwa diskusi masih bisa dilanjutkan secara informal di luar forum. Selanjutnya Ibu Amie selaku pembawa acara menutup acara secara resmi pada pukul 16.12 dan mempersilakan tamu dan hadirin untuk menikmati minuman yang tersedia di luar ruangan. Krishna juga mengumumkan akan dilakukan foto bersama sebelum tamu pulang.

Lepas dari beberapa kendala, acara berakhir sukses dan wajah-wajah panitia nampak lepas setelah menyelesaikan kewajiban. Dengan penuh keceriaan semua orang menikmati suguhan terakhir di luar ruangan. Akhirnya acara ditutup dengan foto bersama sebelum delegasi Konjen bertolak ke Sydney. Panitia dengan bersemangat menyelesaikan segala seuatu terutama memastikan kebersihan tempat acara. Anak-anak S1 dan College dengan semangat membantu sambil sekali-sekali beraksi di depan kamera. Berakhir sudah silaturahmi masyarakat Indonesaia dengan Konjen dan sekali lagi terbukti kekompakan masyarakat Indonesia di Illawarra/Wollongong.

About these ads

Responses

  1. Ini bener2 insight, runut dan lengkap. Terima Bung IMAA untuk full reportnya.

    ===
    Thanks Pak Garda :)

  2. Hmm..seru banget kayaknya..baca cerita Andi, serasa aku ada di tempat kejadian, sampe ikut ketawa sendiri di depan komputer (untung gk dikira gila) soal lagu Batak yg jadi penunjuk arah pak Konjen. Ditunggu cerita2 seru selanjutnya…itung2 sbg obat penawar kangen sama komunitas Gongs =-p
    ===
    Thanks Lola… pkbr Jakarta?

  3. […] selepas diskusi bersama Pak Gert. Sebelumnya saya juga pernah menulis laporan pandangan mata silaturahmi Konjen Sydney dengan masyarakat Indonesia di Wollongong yang akhirnya terbit di Indomedia.  Semuanya dengan gaya apa adanya, gaya […]


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: