Oleh: Andi Arsana | Februari 12, 2009

Undangan Diskusi – Hobit Flores

news.nationalgeographic.com

nationalgeographic.com

Kabar tentang ditemukannya spesies yang serupa hobit di Flores adalah sebuah fenomena beberapa saat lalu. Indikasi terobosan dalam ilmu pengetahuan serta kontroversi yang ditimbulkannya menjadi pembicaraan di mana-mana.

Dimuatnya penemuan ini di majalah terkemuka Nature semakin mengukuhkan bahwa hobit Flores memang adalah penemuan penting. Penemuan ini melibatkan beberapa ilmuwan terkemuka di dunia termasuk beberapa diantaranya ilmuwan Indonesia. Seorang dokter di UGM, Prof. T. Jacob juga disebut-sebut namanya dalam fenomena ini.

Masyarakat Indonesia di Wollongong beruntung karena salah satu peneliti utama hobit ini kini berada di Wollongong. Menariknya, Pak Gert, begitu masyarakat Indonesia mengenalnya, bersedia berbagi pengalaman penelitiannya dengan masyarakat Indonesia di Wollongong.

Diskusi yang terbuka untuk umum (dengan reservasi) ini diselenggarakan pada:

Hari/tanggal: Kamis, 19 Februari 2009
Waktu: Pukul 10 pagi – selesai (maks 2 jam)
Tempat: Gedung 19 Ruang 1017 (sebelah barat laut library)

Berkesempatan mendengar penuturan langsung dari pelaku utama tentu adalah kesempatan yang istimewa untuk kita semua. Silakan sebarkan undangan ini kepada teman-teman yang mungkin tertarik. Terlampir abstrak dari Pak Gert.

“Digging in the past: the lost world from Flores”
Menggali masa lalu: dunia yang punah dari Flores

Gert van den Bergh
School of Earth and Environmental Sciences
University of Wollongong

Pada bulan September tahun 2003 tim penelitian gabungan dari Indonesia dan Australia menemukan sebagian rangka manusia purba di gua Liang Bua, Flores, NTT. Tahun berikutnya hasil penelitian ini dimuat di majalah ilmu pengetahuan internasional “Nature.” Sejak itu, berita mengenai fosil tersebut beredar di media-media di seluruh dunia. Ternyata fosil manusia ini adalah spesies manusia baru dengan nama ilmiah “Homo floresiensis”. Secara popular spesies ini dikenal sebagai “hobbit”, karena tinggi badannya hanya 1 m. Rangka hobbit ini ditemukan bersamaan dengan fosil hewan lain seperti gajah kerdil, komodo dan tikus raksasa serta ribuan artefak batu. Menariknya, hasil penanggalan menunjuk bahwa hobbit kecil ini masih hidup di pulau Flores hingga 12.000 tahun lalu, ketika manusia modern, Homo sapiens, sudah ada di seluruh benua kecuali Antartika. Sebagai anggota tim peneliti, dalam diskusi ini saya akan menyampaikan beberapa aspek dari hasil penelitian ini, dan kontroversi yang muncul terkait interpretasi fosil unik ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: