Oleh: Andi Arsana | Maret 7, 2009

Apa sih artinya Wollongong?

Wollongong

Wollongong

Bagi yang belum pernah ke Australia, kemungkinan besar membayangkan nama-nama tempat di Australia berbau Inggris seperti Sydney, Melbourne, New Castle, Kensington dan sejenisnya. Ada yang bahkan ketika mendengar kata Wollongong, mereka mengira itu berada di China atau Taiwan atau bahkan Mongolia.

Setelah berada di Australia, kita akan semakin banyak menjumpai istilah, terutama nama tempat, yang sama sekali tidak berbau barat alias Inggris. Sebut saja misalnya Dapto. Kalau orang Bali yang mendengar ini, mereka mungkin akan menduga ini nama sebuah desa di Purwokerto. Nama Lain seperti Warrawong mungkin akan dikira ada di Vietnam atau lebih parah lagi disangka ada di dekat Sumedang.  Nama lain yang bisa menimbulkan kesan yang sama misalnya adalah Cabramatta, Maroubra, Tempe, dan banyak lagi.

Nama-nama yang disebut di atas adalah nama tempat di Australia. Di Dapto misalnya, mata uang yang berlaku juga Dolar Australia, bukan Rupiah, walaupun namanya sangat nJawani🙂. Demikian pula di Cabramatta, Maroubra dan nama-nama lainnya. Pertanyaannya, mengapa nama-nama itu tidak ada Inggris-Inggrisnya sama sekali?

Nama-nama tersebut berasal dari istilah Aborijin alias Aboriginal language. Wollongong sendiri adalah istilah Aborijin yang memiliki arti tersendiri. Menurut situs resmi Wollongong, ada beberapa kemungkinan makna Wollongong yaitu:

  1. Wollongong bisa beramakna “suara laut” alias “the sound of the sea“. Ini berdasarkan cerita dari cicit Dr Throsby yang masih ada sekarang.
  2. Ini juga merupakan ungkapan kekageten orang Aborijin ketika melihat kapal. Mereka mengatakan “Nywoolyarngungh” yang artinya “lihat monsternya datang”
  3. “Woollungah” adalah istilah Aborijin yang benar untuk Wollongong, menurut Billy Saddler,  seorang Aborijin. Ini merupakan tempat pernikahan putra/putri raja-raja termasyur sebelum Kapten Cook menemukan Australia. Ini juga berarti adanya pesta meriah dengan berbagai jenis ikan dan sajian lainnya di pernikahan itu. Pesta pernikahannya sangat meriah dan mewah sehingga tempatnya diberi nama demikian. Kadang-kadang namanya juga dieja “Wullungah”.

Bagi masyarakat Indonesia di Wollongong, Figtree mungkin adalah salah satu tempat yang sangat populer. Mungkin juga banyak yang tidak mengetahui bahwa tempat ini diberi nama demikian karena dulu memang tumbuh pohon fig (Bahasa Indonesianya apa ya? Kalau Andrea Hirata yang menulis ini mungkin sudah dilengkapi dengan nama latinnya 🙂 ). Pohon ini sangat besar, tumbuh di persimpangan (ada juga sumber yang mengatakan pohon ini tumbuh di sisi timur Highway). Karena berpenyakit, pohon ini ditebang pada tahun 1996. Berikut ini adalah foto pohon fig.

Pohon Fig

Pohon Fig

Penamaan model begini sebenarnya populer juga di Indonesia. Duren Tiga di Jakarta, misalnya, juga diberi nama demikian karena di sana dulu ada tiga batang pohon duren (Rais, 2008). Penamaan tempat ini dalam bahasa ilmiah disebut Toponimi. Cara lain memberi nama misalnya adalah dari posisi suatu tempat terhadap landmark. Kulon Progo, misalnya, adalah wilayah di Yogyakarta yang berada di sebelah barat Sungai Progo. Dangin Puri adalah nama tempat di Denpasar yang berada di sebelah timur Puri (istana). Demikian juga nama-nama lainnya.

Jika tertarik mengetahui sejarah nama-nama tempat di Illawarra, silakan jenguk website resmi Wollongong.


Responses

  1. Wah…menarik pak Andi….saya selalu kepengen bisa menulis …tapi ga pernah bisa….pak Andi nulis apa aja kok bisa sih?? he..he…ntar kalo balik indo tinggal cari penerbit pak…keren deh jadi “nyaingi” cerita Edensor…Andrea Hirata….
    Terus nulis deh pak Andi…ntar saya tinggal terus baca…okay….
    Oh ya…resep stae yang kemarin harin sabtu…bisa dilihat dimana ya???tertarik nie….

  2. Mbak Dian,

    Tuh buktinya bisa nulis komentar yan bagus mbak he he he. Matur nuwun nggih sudah dikomentari positif.

    Doakan aja novel saya segera keluar (padahal belum mikir).

    Resep sate lilit bisa didapat di http://thearsana.blogspot.com/2008/09/resep-sate-lilit.html

  3. Nah sekarang sudah terpikir nulis Novel kan… ditunggu Novelnya Pak…

  4. ternyata tidak hanya dian saja yang merasakan tulisan pak andi enak dibaca. Awal saya mengomentari tulisan pak andi juga karena tertarik dengan gaya tulisan yang biasa, apa adanya tapi menggelitik pengen tahu terusannya. gaya menulis yg begitu biasanya memiliki daya komersil saya setuju dengan dian dan husna azizah klo novel pak andi bakal laris manis seperti laskar pelangi.
    Pak andi kayaknya punya sens of social, cultural yang cukup bagus pada saat berada dilingkungannya, itu bisa jadi bahan nulis lho pak.., pokok saya dukung tulisan2 pak andi …
    |Sampai ketemu di Ausie pak, saya dan teman2 berangkat tgl 26 Agustus, nanti saya akan call deh….see you…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: