Oleh: Andi Arsana | Mei 11, 2009

Dangdutan di Graduate House

Peserta Party di Graduate House

Peserta Party di Graduate House

Sore itu orang-orang berkerumun, bersemangat menikmati berbagai hidangan yang tersaji. Minuman pun berupa-rupa di atas meja. Sebagian orang masih sibuk memanggang daging, sebagian lain bersenda gurau duduk di kursi plastik. Sementara itu, anak-anak histeris berteriak riang berlarian ke sana ke mari. Ada juga yang asik bergelantungan di selasar-selasar besi. Dengan setia menemani suasana itu, berkumandanglah lagu dangdut dari panggung yang tidak jauh dari kerumunan orang. Seorang penyanyi tampan melenggak lenggok nan gemulai melantunkan lagu-lagu dangdut dari jaman dulu hingga yang paling mutakhir. Musikpun mengalun, nampak gitaris dan keyboardist bersemangat mengiringi pertunjukan itu. Semakin sore, suasana semakin hangat, kelakar orang-orang semakin akrab melompat dari topik satu ke topik lainnya. Kalau saja tidak segera disadari, suasana ini pastilah tidak ubahnya di sebuah kampung di Indramayu.

Suasana ini memang tidak terjadi di Indramayu, meskipun lantunan dangdut dan gaya percakapannya tidak jauh berbeda. Sore itu, masyarakat Indonesia di Wollongong mengadakan pesta di halaman Graduate House University of Wollongong, Australia. Kali ini yang bertindak sebagai tuan rumah adalah mahasiswa TNI yang sedang menempuh pendidikan master di University of Wollongong. Keluarga mahasiswa TNI yang tiba di Wollongong bulan Januari terdiri dari keluarga Bapak Wastum, Bapak Novera, Bapak Wisnu, Bapak Sigit dan Bapak Romson. Seperti disampaikan dalam emailnya, turut mengundang adalah keluarga Bapak Kresno, sebagai mahasiswa TNI senior di Wollongong (undangan ini agak beda dengan udangan nikah yang biasanya bertuliskan ”turut mengundang mempelai berdua”). Tidak hanya TVRI, TNI juga terbukti bisa menjalin persatuan dan kesatuan. Dari sekian banyak undangan, sebagian besar menghadiri dan hanya satu dua yang tidak datang karena ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan.

Sudah menjadi tradisi di Wollongong, acara makan-makan pasti disertai dengan nyanyi-nyanyi. Kehadiran mahasiswa TNI ini membawa suasana baru karena ternyata Pak Wastum adalah penyanyi professional. Konon beliau masuk TNI lewat penelusuran bakat khusus yaitu nyanyi dangdut🙂 (boleh percaya boleh tidak). Meskipun Pak Wastum ini adalah penerbang pesawat tempur, tapi kalau sedang pegang mic dan bergoyang, Roma Irama dan Megy Z, lewat semua, meskipun tidak pakai ngebor dan patah-patah. Konon ketegangan seorang pilot pesawat tempur setara dengan seorang anggota Secret Service yang sedang mengawal Presiden Amerika. Maka dari itu, saat sedang di darat perlu melepaskan ketegangan, salah satunya dengan dangdut.

Melihat kekuatan TNI yang sepertinya mendominasi, gerakan sipil berusaha keras menyeimbangkan kekuatan di panggung. Mbak Dian, biduanita yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia di Wollongong, segera ambil bagian. Melantunlah lagu-lagu indah dari mbak Dian yang ternyata DANGDUT juga. Memang dangdut is the music of my country. Gitaris tunggal kita sore itu tentu saja Pak Timmy, yang kepiawaiannya hanya sedikit saja di bawah Slash🙂 di dampingi oleh Pak Budi sebagai pawang keyborad/organ. Di sela-sela menikmati lagu dangdut, para penonton berkelakar “kalau di kampung di Jawa, di jalan depan sudah dipasang portal tuh” katanya.

Penyanyi lain juga ambil bagian menyumbangkan lagu. Ada yang benar-benar menyanyikan lagu, ada juga yang memang dengan serius menyumbangkan lagu, alias membuat lagu yang aslinya merdu menjadi sumbang. Ada juga satu penyanyi dari negeri jiran Malaysia yang mengumandangkan lagu nan merdu. Sementara itu, yang tidak pernah turun dari panggung tentu saja adalah biduan dangdut kita, Pak Wastum. Ada desas-desus beredar bahwa sebelum acara dimulai ada perintah khusus dari Pak Kresno sebagai tentara senior menginstruksikan Pak Wastum untuk bernyanyi. Ketika ditanya “Siap! Sampai kapan Mas?” Pak Kresno pun menjawab tegas “sampai saya lupa!” Ini rupanya yang menjadi rahasia stamina penyanyi dangdut kita. Entahlah apakah rumor ini benar atau tidak (sepertinya sih tidak!)

Kalau ngobrol soal makanan, cerita ini mungkin tidak akan selesai karena makanannya banyak sekali dan berupa-rupa jenisnya. Sudah menjadi tradisi, setiap ada acara makan-makan, setiap keluarga akan datang dengan makanan/minuman masing-masing. Sering terjadi, makanan dan minuman tidak habis dinikmati ketika pesta berakhir.

Di sela-sela nyanyian yang tak terputus, anak-anak tetap bermain di taman bermain yang tidak jauh dari panggung. Tidak puas hanya menyaksikan anak-anak, ibu-ibu pun ambil bagian bergelantungan di katrol mainan. Foto-foto yang lucu ini diabadikan di Facebook-nya Teh Ina🙂 Selain tema utama seputar makanan dan hiburan, percakapan juga diisi dengan topik-topik kurang penting seperti riset, supervisor, konferensi dan thesis. Mereka yang membahas hal-hal seperti ini biasanya mojok di tempat terpisah agar tidak diketahui temen-teman lain yang ada dalam suasana mainstream bersuka cita. Ada juga yang dengan serius membahas apel yang pengawetannya dilakukan dengan pelapisan lilin, termasuk kelakar seputar KPK dan caddy golf yang menggoda.

Acara yang semula direncanakan selesai pukul 4 sore ternyata (seperti biasa) molor. Selain dangdut yang enak didengar, tentu saja makanan yang lezat serta percakapan yang gayeng jadi alasan untuk tidak berhenti. Untunglah ada salah seorang senior resident di Graduate House yang mengingatkan sehingga acara nyanyi-nyanyi pun dihentikan dengan berat hati. Meskipun suasananya sama dengan di Indramayu, ternyata kalau urusan disiplin waktu, tetap saja harus mengikuti standar Australia. Nyanyian boleh berhenti, bukan berarti keceriaan harus berakhir. Ada yang bahkan sudah lima kali pamitan tetapi tetap saja tidak beranjak pulang. Menjelang acara benar-benar berakhir, ada foto-foto bersama di halaman Graduate House.

Saat gelap mulai turun, para pelaku pesta mulai meninggalkan halaman Graduate House. Namun jangan salah, banyak dari mereka yang tidak pulang tetapi melanjutkan party tahap kedua di markas nan hangat di Catherine Street, rumah Pak Budi dan Bu Linda. Akhir pekan memang saatnya berkumpul saling berbagi cerita dengan saudara sebangsa di perantauan.

Cerita ini sengaja dihentikan di sini, walaupun sebenarnya belum selesai. Tulisan ini hanya untuk kenangan saja, bukan berita resmi. Isinya adalah kelakar tanpa bermaksud menyinggung siapapun. Meminjam istilah Tukul, just kidding saja🙂. Jika ada yang kurang pas pastilah itu kesalahan penulis. Silahkan layangkan keberatan, tetapi dengan sangat, jangan dilaporkan ke polisi [ingat, dalam cerita ini ada pilot pesawat tempur lo]


Responses

  1. Good Story pak andy..Thanks..bila bacanya pasti kenangan datang menerpa..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: