Oleh: Andi Arsana | Mei 26, 2009

Bev: Pahlawan Jamur

Beverly Sayer

Beverly Sayer

“Dibandingkan orang-orang dari negara lain, orang Indonesia adalah yang paling mudah diajak kerjasama.” – Beverly Sayer

Sejak lama IndoWollongong ingin menampilkan kisah dari tokoh-tokoh yang berperan besar bagi masyarakat Indonesia di Wollongong. Pasalnya, tidak mudah untuk memilih satu karena semuanya penting dan berperan. Namun begitu, pilihan toh tetap harus dilakukan. Menampilkan tokoh ini bukan dalam rangka mengultuskan satu individu seraya meremehkan peran orang lain. Semata-mata untuk berbagi cerita agar kebaikan itu sampai ke telinga lebih banyak orang yang harapannya bisa menginspirasi dan memotivasi.

Orang pertama yang ditampilkan di IndoWollongong sebagai profil adalah Beverly Sayer yang biasa dipanggil Bev, seorang supervisor berkebangsaan Australia di Mushroom Exchange (ME). ME adalah tempat kerja banyak sekali orang Indonesia yang ada di Wollongong dan sekitarnya.

Malam itu suasana sangat hangat di rumah Pak Budi di bilangan Catherine Street. Ketika dijumpai IndoWollongong, Bev nampak sedikit canggung. “Saya tidak biasa diwawancarai” katanya [tentu saja dalam Bahasa Inggris :)]. Di sebelahnya, Bapak Budi dan Ibu Linda berusaha meyakinkan. Pelan-pelan Bev pun membuka dirinya, bercerita tentang pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat Indonesia.

ME adalah sebuah perusahaan perkebunan jamur yang berlokasi di Mittagong, sekitar 45 menit dari Wollongong ditempuh dengan kendaraan. Orang Indonesia sudah mulai bekerja di perusahaan tersebut sejak lama. Seperti diakui oleh mereka yang sudah bekerja cukup lama, ME menjalankan banyak peran penting bagi masyarakat Indonesia. Mungkin tidak semua orang yang bekerja di sana menjadikan ekonomi sebagai alasan. Kenyataannya, ada juga yang sekedar mencari pengalaman atau mengisi waktu saat menemani istri/suami sekolah. Bagi orang-orang seperti ini, ME adalah tempat yang tepat untuk mengurangi kebosanan dan stress akibat tinggal di kota nan tenang, jauh dari keramaian seperti Wollongong. Sementara itu, bagi yang lainnya, ME bisa benar-benar menjadi harapan hidup. Tidak sedikit dari mereka yang merasa hidupnya ditolong oleh keberadaan ME ini. Ada yang mengandalkannya untuk membayar sekolah, ada juga yang melakukannya untuk kepentingan yang lebih vital lagi. Bapak Budi yang sudah bekerja di sana selama lebih dari 10 tahun, misalnya, meyakini benar bahwa ME berperan luar biasa bagi keluarganya.

Dari sekian orang di ME, yang dirasa berperan paling besar tentu saja adalah Bev, supervisor yang sehari-hari berinteraksi dengan orang Indonesia. Selain berhubungan secara profesional, Bev juga aktif menjalin kontak sosial. Dia rajin menghadiri kegiatan-kegiatan yang diadakan orang Indonesia di Wollongong seperti ulang tahun, pisah kenal, tujuhbelasan dll. Inilah salah satu alasan utama mewawancarai Bev untuk IndoWollongong.

IndoWollongong (I): Sejak kapan Anda berinteraksi dengan orang Indonesia di ME?

Bev (B): Wah sudah lama sekali. Yang pasti lebih dari 10 tahun. Saya lupa tepatnya.

I: Selama ini berapa orang Indonesia yang sudah bekerja di ME? B: Yang pasti lebih dari seratus. Mungkin ratusan. Saya sudah tidak ingat lagi, saking banyaknya.

I: Siapa yang paling lama bekerja di sana?

B: Budi. He has been there for more than ten years now.

I: Di sana ada banyak orang selain Indonesia, bagaimana Anda membandingkan mereka?

B: Dibandingkan orang-orang dari negara lain, orang Indonesia adalah yang paling mudah diajak kerjasama. Mereka tidak banyak tingkah dan melakukan apa yang saya perintahkan. Indonesians make my job easier! Mereka juga, secara umum, memiliki kepribadian yang baik.

Ketika ditanya apakah ada orang dari negara X yang tidak berkenan di hatinya, Bev menyebutkan nama satu negara. Orang dari negara ini, menurutnya, merasa dirinya paling hebat dan orang lain tidak ada apa-apanya. Selain itu, mereka juga menganggap perempuan memiliki kelas yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Bev antipati dengan orang-orang yang berprinsip seperti ini. Selain itu, orang-orang dari negara tersebut dianggapnya suka memanfaatkan situasi atau orang lain. Hal ini yang juga tidak disukainya.

I: Mengapa Anda tertarik mengikuti kegiatan sosial orang-orang Indonesia?

B: Saya suka dengan kehangatanya. Selain itu hubungan non-profesional yang baik akan membantu saya lebih mudah berinteraksi secara professional di tempat kerja. Saya juga pernah diundang oleh kelompok dari negara Y tetapi tidak merasakan kehangatan dan keakraban yang sama dengan masyarakat Indonesia.

Saat ditanya apakah orang-orang dari negara Z pernah mengundangnya, spontan Bev berkata “mereka tidak pernah bersosialisasi” sambil tertawa lebar agak mencibir.

Bev di tengah-tengah masyarakat Indonesia: 17 Agustus 2008

Bev di tengah-tengah masyarakat Indonesia: 17 Agustus 2008

I: Apakah ada masalah dalam berinteraksi dengan orang Indonesia selama ini?

B: Kadang ada kendala Bahasa Inggris. Tidak semua yang bekerja di sana awalnya bisa berbahasa Inggris dengan baik. Yang saya kagumi, mereka mau belajar. Dulu ada namanya Endang yang termasuk kelompok pertama. Dia tidak bisa berbahasa Inggris awalnya, tetapi setelah pulang dia malah jadi guru Bahasa Inggris di Indonesia (sambil tertawa).

I: Anda tahu, masyarakat Indonesia di sini sangat berterima kasih pada Anda karena banyak sekali membantu?

B: Ah, nggak lah! (dengan muka yang bersemu merah) Saya tidak melakukan apa-apa kok. Semua yang datang ke saya lewat Budi dan Linda. Kalau mereka rekomendasikan, ya saya terima. Jadi mereka harus berterima kasih pada Budi dan Linda (sambil melirik Bapak Budi dan Ibu Linda).

Mereka yang bekerja di ME tahu bahwa Bapak Budi dan Ibu Linda menjadi jembatan bagi hampir semua orang Indonesia untuk dapat bekerja di ME. Jika ada orang baru (biasanya istri/suami para mahasiswa), Pak Budi dan Bu Linda adalah orang pertama yang dikunjungi terkait peluang kerja di ME. Pak Budi pun selalu dengan senang hati membantu, mulai dari menjelaskan pekerjaannya hingga menyerahkan dokumen lamaran kerja ke Bev. Pernah sekali waktu Pak Budi mengatakan bahwa tumpukan lamaran kerja di meja kerja Bev sebenarnya sangat tebal dari berbagai negara. Meski demikian, peluang untuk orang Indonesia selalu diutamakan. Jika ada satu dua orang Indonesia yang belum dipanggil itu artinya benar-benar belum ada peluang kerja.

I: Sebentar lagi Budi dan Linda akan meninggalkan Wollongong, bagaimana perasaan Anda?

B: Give me another Budi and Linda! (sambil tertawa getir). Saya khwatir, kalau Budi dan Linda tidak ada, akan lebih sulit bagi orang Indonesia untuk bertahan di sana. Mereka yang banyak membantu saya mengomunikasikan banyak hal.

I: Tapi bukan berarti Anda tidak lagi menerima orang Indonesia kan?

B: Saya akan tetap menerima orang Indonesia tentu saja. Kalau ada yang datang, saya akan terima jika dia memenuhi syarat. Tapi ya itu… pasti situasinya akan berbeda.

I: Kalau Budi dan Linda pergi, nanti pasti muncul Budi dan Linda lain dari Indonesia.

B: Well, I hope so. Let’s see!

I: Menurut Anda, apa yang perlu ditingkatkan oleh orang Indonesia yang bekerja di ME?

B: Mereka harus lebih berani mengekspresikan diri. Kalau atasan salah, harus berani mengatakan salah. Kalau atasan melakukan kebijakan yang merugikan karyawan, mereka juga harus berani mengambil sikap. Saya lihat, ini yang masih perlu ditingkatkan. Sering terjadi, mereka hanya menerima saja meskipun dirugikan. Mereka sepertinya tidak sadar kalau mereka juga sama posisinya dengan bos, sama-sama berperan. Tidak ada istilah takut kehilangan pekerjaan karena mereka memang dibutuhkan oleh perusahaan.

I: Mungkin ini ada kaitannya dengan budaya yang dianut mereka sejak kecil.

B: Ya saya maklum juga sih, tetapi mereka harus mulai belajar sejak sekarang bahwa mereka memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan mereka dilindungi oleh hukum.

Bev tampak sedikit berapi-api ketika menjelaskan tentang keengganan orang Indonesia untuk berkonfrontasi dengan atasannya di ME. Sejalan dengan itu, dia kembali mengisahkan pengalamannya berinteraksi dengan banyak orang Indonesia di ME. Dia juga tahu bahwa hampir semua orang Indonesia yang dulu dikenalnya di ME sesungguhnya memiliki posisi dan pekerjaan yang baik di Indonesia. Bev tahu banyak dari mereka yang kini menempati posisi yang menentukan. Dia berharap mereka yang membaca cerita ini akan terkenang dengan pengalaman mereka dulu. Bev juga menyarankan Ibu Linda untuk membuat reuni “Komunitas Jamur” di Indonesia yang disambut positif oleh Ibu Linda. “I would love to participate” demikian dia bersemangat.

Akan banyak yang mungkin tertawa geli mengingat pengalaman yang unik sebagai pemetik jamur selama berada di Wollongong. Dari sekian banyak itu, mungkin ada juga yang terharu karena teringat perjuangan bertahan hidup dan menuntut ilmu di Wollongong. Apapun reaksi mereka, cerita ini hanya bermaksud mencatatkan kenangan yang mungkin ada manfaatnya, entah kapan!

Dengan segala kelebihan dan kelemahannya, Bev adalah tokoh yang berpengaruh bagi kehidupan warga Indonesia di Wollongong. Meski banyak dari mereka yang menjadikan ME sebagai persinggahan dan tempat having fun menikmati pengalaman baru, ada juga yang bahkan merasa terselamatkan hidupnya. Untuk mereka semua, kisah ini dipersembahkan.


Responses

  1. afwan mau tanya, yang mengelola web ibi siapa ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: