Oleh: Andi Arsana | Agustus 23, 2011

We are what we eat

Sebuah laporan pandangan mata Obras PPIA Gong 15 Agustus 2011

Mbak Emma yg nampang di Mercury

Suasana ruang 2 lantai 1 di building 11 UoW sudah mulai agak ramai pada jam 3 sore. Mas Ahmad, Pak Miftadi, Luhur dan Dhanny nampak bercakap-cakap santai. Saya datang agak terlambat, maklum dari Innovation Campus dan bukan penduduk tetap Main Campus sehingga wajar kalau tersesat mencari ruang dalam gedung baru. Belakangan ternyata ada penduduk asli yg juga telat. Kita akan sampai pada cerita ini nanti.

Seingat saya, diskusi sebenarnya mulai jam 3 tetapi ternyata email yang nyampai ke anggota PPIA beda-beda. Mas Mawardi yang datang bersama Mas Lukman, yakin kalau diskusinya jam setengah empat *smile*. Yang lebih menarik, artis utama diskusi juga datang setelah jam 3. Tapi bisa dimaklumi karena rupanya para pembicara melakukan persiapan khusus. Mas Arief yang kemudian jadi pembicara mengenakan kemeja rapi yang sepertinya disetrika. Untuk ukuran di Wollongong, mengenakan baju disetrika ini sudah tergolong super rapi. Rupanya beliau nyetrika baju dulu sebelum presentasi. Mbak Emma sendiri, selebritis kita, datang beberapa saat setelah Mas Arief. Alasannnya, sulit menemukan ruangan diskusi. Ini yang saya bilang, penduduk asli yang tersesat di kampus sendiri *smile lagi*.

Sebelum diskusi dimulai, obrolan serupun berjalan. Dhany terlihat senang karena akhirnya bisa bertemu dengan ‘single’ yang sempat jadi gossip di milis *melirik mbak Mel*. Yang lebih senang lagi tentu saja Pak Presiden PPIA yg ngaku-ngaku dan ngajak2 saya jadi single juga. Dalam beberapa menit, berdatanganlah peserta lain diantaranya Mb Iis dan Pak Samsul. Sementara di Bung Sam sudah duluan dan tidak henti-hentinya berkelakar. Saya masih ingat salah satu kelakarnya “Sebagus-bagusnya Pak Bagus, lebih luhur Mas Luhur” katanya. Nama orang Bali memang keren-keren rupanya. Luhur akhirnya terpaksa harus pergi sebelum diskusi dimulai. Dia pergi karena ada kelas, bukan karena digoda Bung Sam.

Mas Ahmad membuka diskusi dan kemudian menyerahkannya moderasi Pak Miftadi. Pak Mif sempat memaparkan idenya tentang Obras yang sangat menarik yaitu dengan menghadirkan pembicara dari luar dengan berbagai topic. Satu yang disoroti Pak Mif adalah apakah nama ‘Obras’ ini perlu diganti, karena nama ini mungkin kurang ‘menjual’ kalau ditulis di sertifikat pembicara. Takutnya nggak bisa dipakai untuk KUM. Hm.. dari sini saya bisa menduga beliau ini seorang dosen. Tapi kalau saya pikir-pikir, kata Obras memang bisa disalahartikan. Jangan-jangan pembicara yang mendapat sertifikat Obras dikira kerja di garmen, lagi. Jadi gak mungkin dapat KUM. Pak Mif juga menyebut salah satu tema menarik untuk didiskusikan nanti misalnya adalah ‘menuju 2014’. Tadinya saya pikir ini tentang PilPres tetapi ternyata itu tahun kelulusan beliau dari Gong. Bener begitu Pak? *smile*

Seperti film Speed (1994) yang katanya menegangkan dari menit pertama sampai detik terakhir, diskusi tadi menarik dari slide pertama hingga slide terakhir. Mas Arief sudah menghebohkan suasana saat membuka presentasi dengan definisi ikan. Ternyata, ikan, menurut Pasal 1 Undang-Undang 45 tahun 2009, adalah “segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan”. Tentu saja ini menyinggung saya karena saya hobi berenang. Tetapi untunglah Mas Arief tidak mengklasifikasikan saya ke dalam definisi ini. Ternyata belakangan saya tahu alasannya adalah karena saya tidak mengandung cukup Omega-3. Ketika Mbak Mel nyeletuk “berarti rumput laut termasuk ikan dong”. Mengejutkan, jawabannya “ya” dan tentu saja membuat orang-orang awam seperti saya jadi terpana dan takjub. Sementara itu Mbak Rika, senyum-senum saja di samping Mbak Mel. Mas Mawardi kemudian menambahkan, memang kalau di Jawa, semuanya disebut ikan. Kadang krupuk juga disebut ikan, ayam juga. Ini terbukti dari kebiasaan mengatakan “makan pakai ikan krupuk”.

Mas Arief menyampaikan banyak hal yang menarik dan mencerahkan. Secara rinci beliau menginformasikan luas perairan Indonesia dan kemudian produksi perikanan Indonesia dibandingkan negara-negara lain. Menariknya, negeri kepulauan ini ternyata masih di bawah Vietnam dalam hal produksi ikan. China tentu saja masih nomor 1, meskipun ada yang berkelakar, produksi China bisa tinggi karena suka nyuri ikan di tempat kita. Entah benar entah tidak. Menariknya, produksi ikan terbesar Indonesia adalah dari hasil tangkapan, bukan budidaya. Katanya sih pemerintah, dalam hal ini Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengusahakan peningkatan ikan hasil budi daya. Informasi berikutnya yang disampaikan adalah konsumsi ikan oleh masyarakat Indonesia yang ternyata masih tergolong rendah. Saya sendiri lupa angka-angkanya. Sebenarnya banyak sekali informasi menarik yang disampaikan Mas Arief, tetapi mohon maklum, saya tidak membawa catatan jadi mengandalkan ingatan yang sudah mulai menua *lebaydotcom*.

Btw, di tengah presentasi, Mbak Dian datang dengan Faisal, anggota PPIA termuda. Luar biasa, Mbak Dian bisa bergabung diskusi meskipun abis jemput putranya. Beliau ini mungkin satu saja dari mahasiswa Indonesia di luar negeri dengan profil yang sangat tipikal. Kita semua terbiasa dengan kegiatan seperti masak, nganter-jemput anak, ikut diskusi, buka puasa, bersih-bersih rumah, dan Sunday Market di Dapto. Selain semua kegiatan utama itu, kita juga punya hobi yang mirip yaitu ‘nulis tesis’ *smile miris*

Di akhir presentasinya, Mas Arief memberikan beberapa provocative questions terkait produksi, pengolahan, konsumsi dll. Salah satu pertanyaan yang dilempar dalam diskusi adalah adakah keterkaitan antara kualitas ikan dengan cara penangkapannya. Lebih spesifik Mas Arief melempar pertanyaan terbuka, apakah ada perbedaan kualitas antara ikan yang ditangkap secara nggak bener (Illegal, Unregulated, Unreported [IUU] Fishing) dengan ikan hasil tangkapan menggunakan cara yang semestinya. Seandainya saja ada yang meneliti dan membuktikan bahwa ikan yang ditangkap dengan cara yang nggak bener itu kualitas gizinya rendah, tentu ada satu lagi alasan untuk menghentikan IUU fishing.

Mbak Emma melanjutkan diskusi dengan menyampaikan pemaparannya soal n-3 LCPUFA. Teman-teman pasti banyak yang tidak tahu apa itu n-3 LCPUFA. Makanya datang diskusi dong *smile* Setelah dijelaskan oleh Mbak Emma, ternyata itu singkatan dari “long-chain n-3 polyunsaturated fatty acids” (serius, saya nggak copas dari internet lo ini). Tahu nggak apa itu artinya? Baiklah saya jelaskan… tapi daripada terjadi kekacauan dan salah mengerti, silakan Tanya Pak Google. Tapi jangan lupa, pilih artikel dari Google Scholar ya *smile* Intinya, beliau juga menjelaskan kenapa akhirnya ada nama Omega-3 sambil menunjukkan sebuah simbol ikatan kimia karbon yang mengingatkan saya pada masa remaja saat SMA.

Mbak Ema membuka presentasinya dengan menyajikan empat gambar hidangan. Untung saya nggak puasa karena semua gambar itu menggoda sekali. Ternyata dengan menampilkan itu, Mbak Emma hendak menyampaikan bahwa “we are what we eat”. Sebagai anak kos dan bujang, tentu saja tagline ini menyindir saya. Mendengar ini, dalam hati saya menambahkan “I am Indomie”. Secara inspiratif Mbak Emma menyampaikan bahwa “makanan adalah investasi”. Kita akan menuai hasil di kemudian hari sesuai dengan yang kita makan (bukan apa yang kita tabung). Pelajaran moral ala Ikal di Laskar Pelangi: lebih baik banyak makan daripada banyak menabung *smile lagi*

Dengan cekatan Mbak Emma menampilkan berbagai informasi ilmiah yang sangat detil. Yang saya ingat, beliau berbicara tentang sel makhluk hidup. Kenangan saya jadi melayang ke masa lalu, saat-saat remaja naksir teman sekelas di SMA sambil menghafalkan bagian-bagian sel. Ngomong-ngomong, mitokondria adalah bagian sel tempat berlangsungnya pernafasan atau respirasi. Saya nggak ngambil dari wikepedia lo. Sumpah!

Yang pasti Mbak Emma menjelaskan bahwa Omega-3 ini merupakan bagian penting yg membentuk sel. Dari sebuah gambar atlas anatomi yang ditampilkan, nampak bahwa konsentrasi sel terbayak ada di tiga tempat yaitu di otak, mata dan jantung. Dalam bahasa awam, Omega-3 super penting bagi perkembangan dan eksistensi ketiga organ tubuh kita tersebut.

Bagian yang paling menarik tentu saja adalah sumber utama Omega-3 itu sendiri yang dalam hal ini adalah ikan. Saya jadi inget lagi idenya Mas Arief. Mungkin ada yang tertarik meneliti bagaimana kaitannya tingkat stress ikan yang ditangkap dengan cara nggak bener dengan kandungan Omega-3. Kalau ternyata berpengaruh signifikan, kita tinggal minta tolong pemerintah Australia untuk ‘ngeban’ mereka yang menangkap ikan tanpa memperhatikan peri-keikanan🙂 *smile* Diam-diam, saya lirik Pak Pipit di depan, rupanya beliau sudah memikirkan proposal S3 dengan topik baru. Jadi pindah jurusan Pak Pipit?

Dalam sebuah slide-nya Mbak Emma menampilkan bahwa Ikan mengandung Omega-3 dalam jumlah yang jauh lebih tinggi daripada bahan makanan lain. Selanjutnya beliau menampilkan satu slide lain yang menunjukkan perbandingan kandungan Omega-3 pada berbagai jenis ikan. Ternyata Mackerel menempati urutan pertama dan tuna (kalau tidak salah) menempati urutan terakhir. Mas Ahmad jadi agak tersindir karena spageti yang disiapkan untuk hidangan berbuka sore itu ternyata berisi ikan tuna. Tenang aja Mas Ahmad, tetap enak kok *smile*.

Salah satu fakta menarik yang diungkap Mbak Emma adalah bahwa ikan memproduksi Omega-3 itu sebenarnya dari alga (rumput laut) yang dikonsumsinya. Mendengar ini, Mas Lukman mengajukan pertanyaan cerdas, “mengapa kita tidak makan alga saja, kan dapat dari sumbernya langsung”. Mbak Emma menjawab tak kalah cerdas dan kali ini agak diplomatis, bahwa ini terkait juga dengan kebiasaan dan kultur makan masyarakat. Ikan sudah diterima sebagai bagian dari makanan pokok sedangkan alga belum. Terus terang saya sempat khawatir, jangan-jangan Mbak Emma menganalogikan bahwa “daging sapi itu berasal dari rumput yang dimakan sapi, tetapi kita tidak akan makan rumput to.” Untunglah itu hanya pikiran nakal saya saja dan tidak sempat saya ungkapkan.

Terkait suplemen yang mengandung Omega-3, Mbak Emma memberikan pencerahan juga bahwa kita perlu hati-hati memeriksa kandungannya. Inti dari yang disampaikan Mbak Emma adalah bahwa yang terbaik tentu saja adalah makan ikan. Tapi perlu dimaklumi juga, perilaku orang Indonesia kadang menarik. Banyak hal dilakukan karena menggunakan pendekatan life style. Orang mengkonsumsi suplemen Omega 3 karena lyfe style. Orang naik sepeda bukan karena global warming atau climate change, tetapi karena naik sepeda itu keren dan gaya. Mungkin tidak sedikit yang menganggap bahwa makan ikan itu tidak leih baik dari mengkonsumsi tablet Omega-3 yang harganya mahal itu. Mbak Mel di sebelah saya nyeletuk “mending makan ikan dong, sudah murah, lebih banyak Omega-3 nya, enak lagi”. Betul sekali.

Banyak banget ilmu yang saya peroleh selama ikut Obras sore kemarin. Sekali lagi saya tidak bawa catatan jadi tidak semua berhasil saya ingat. Informasi lebih mantap tentu bisa diperoleh dari presenter kita berdua: Mas Arief dan Mbak Emma. Btw, nama asli mbak Emma itu [ternyata] Setya Rahma to, baru ngeh saya *smile*

Dari semua yang seru sore kemarin, yang paling seru tentu saja buka puasanya. Jadi ingat Kiai sejuta umat Zainuddin MZ “berbuka puasa dengan dua butir kurma dan segelas teh manis sudah cukup”. Sore kemarin, teh manis diganti juice apple dan atau jeruk. Selama makan berlangsung, diskusi tidak berhenti. Saya sangat menikmati interaksi kasual dan ilmiah semacam itu. Makan tetap jalan, diskusi tetap gayeng. Perut kenyang, ilmu berlimpah. Mantap sekali.

Diskusi ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada pembicara. Ada usul agar sertifikatnya direvisi agar ada kata-kata seminar agar bisa digunakan untuk KUM dalam rangka kenaikan pangkat. Saya yakin, yang ngusul itu pasti yang pegawai negeri dan dosen seperti saya ini *smile*. Setelah adegan foto-foto dan ngobrol sana sini, saya menyampaikan ajakan untuk berpartisipasi di KIT PPIA NSW (www.ppiansw.org). Apa yang disampaikan Mbak Emma dan Mas Arief sangat layak diperdengarkan pada mahasiswa Indonesia lainnya di NSW dan Australia umumnya. Saya harap beliau berdua dan teman-teman di Gong bisa presentasi di Sydney nanti tanggal 15 Oktober 2011.

Oh ya, saya lupa cerita tadi. Saat buka puasa berlangsung, Dhany sumringah lagi. Pasalnya ‘another single’ baru bergabung, tidak lain dan tidak bukan: Indah Sari *smile*. Dhan, sudah nggak penasaran kan sekarang? Maka demikianlah, diskusi sore kemarin memang memikat dari pertama hingga akhir. Sampai jumpa di diskusi berikutnya.

PS. Tulisan ini adalah pengamatan subyektif saya atas aktivitas teman-teman PPIA Wollongong. Kekurangakuratan informasi dalam tulisan ini, jika ada, murni adalah kesalahan saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: