Oleh: Andi Arsana | September 13, 2012

Pekik Merdeka dan Halalbihalal di Wollongong

Foto dicuri dari FB-nya Oom Iwan Setiawan🙂

Pagi itu Wollongong masih menggigil. Satu September, saat musim semi mulai bertamu, dingin masih merajalela. Saya harus melapisi tubuh dengan jaket tebal sehingga batik yang berkilau harus disembunyikan. Hari itu, masyarakat Indonesia di Wollongong mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-67 dan Halalbihalal dalam rangkaian Idul Fitri 1433 H. Sekitar jam enam pagi, beberapa panitia sudah sibuk menghias sebuah ruangan di Fairy Meadow, tempat acara akan dilangsungkan. Fatia yang menjadi koordinator dekorasi terlihat sibuk menempel pita merah putih di tembok serta mengikat balon yang juga merah putih. Dalam waktu cepat, ruangan nampak semarak menawarkan nuansa nasionalisme yang meriah. Btw, walaupun namanya Magistra, Fatia ini masih S1 lo ya (Tugas: temukan di mana lucunya kalimat ini)

Sementara itu Luhur, Pak Miftadi dan Mas Ahmad Khumaidi (dikenal di dunia infotainment sebagai Akhum) dengan giat menyiapkan segala sesuatu yang lain. Kursi-kursi ditata, meja digelar, layar dikembangkan, dan kain dibentangkan. Lalu saya ngapain? Penulis tidak usah bekerja, cukup menonton saja agar bisa mengamati semuanya🙂 Di tengah kesibukan itu, Mbak Iis dan para ibu serta remaja putri (seperti istilah TVRI taun 80an) lainnya mulai berdatangan dengan berbagai makanan yang segera dihidangkan. Saya dengar juru masak begadang hingga larut di malam sebelumnya. Mulia sekali mereka semua. Kami semua bekerjasama menyiapkan segala sesuatunya dengan suka cita. Prinsipnya sederhana: dari kita oleh kita untuk kita.

Anak-anak usia sekolah atau pra-sekolah mulai meramaikan suasana. Banyak yang berlarian ke sana kemari, yang tertawa, yang menangis, yang menggoda temannya dan ada juga yang digendong ayah atau ibunya. Maklum saja, dingin masih melanda awal musim semi ini. Untuk menyalurkan energi anak-anak yang berlebih, nampak Mika, Nana, Nelmy dan kawan-kawan menyiapkan berbagai lomba di lapangan dekat gedung. Mereka bertiga memang cocok dikategorikan usia sekolah. Ada yang membuat jalur lomba lari kelereng, ada juga yang menyiapkan tali temali untuk lomba makan donat. Betul, donat, bukan krupuk. Kenapa bukan krupuk? Lho lupa ya? Ini kan di Australia *kata Australia diucapkan dengan gaya Cinta Laura yang becek-becek nggak dapat ojek (nggak ketawa? Kurang gaul pasti!).

Agak berbeda dengan acara tahun lalu, kali ini akan ada acara semi formal karena ada ritual pengibaran Bendara Merah Putih, pembacaan Naskah Proklamasi dan Naskah Pancasila. Nampak Mbak Ida Puspita dan Mas Hidayat tekun menyiapkan segala perangkat dan acara. Sementara itu Mas Rifai sibuk latihan membawa bendera. Di sela-sela kesibukan itu Mbak Yuni membawa buku absensi dan menodong setia orang yang ditemuinya. Ternyata absensi itu terkait dengan stiker diskon PPIA yang sempat menghebohkan milis beberapa hari terakhir. Seksi acara hiburan, Mas Caesar, juga sibuk mengonfirmasi siapa yang akan tampil saat acara hiburan nanti. Btw, Caesar yang ini bisa dipanggil “Mas: karena memang tidak punya istana, mirip Laksamana Sukardi yang tidak punya pasukan.🙂

Ngomong-ngomong tentang hiburan, beberapa hari sebelumnya telah ada teaser di milis PPIA Gong bahwa akan ada artis kenamaan dari Pantura yang membawakan salah satu nomor dari Trio Macan. Diam-diam, motivasi utama saya mengikuti acara kali ini adalah ‘iming-iming’ seperti itu. Sudah tidak sabar menyaksikan Perahu Layar yang dilantunkan dengan gaya Trio Macan.

Sebelumnya panitia berjanji memulai acara jam sepuluh teng karena gedung hanya bisa dipinjam sampai jam tiga. Apa daya ada sesuatu kegentingan yang memaksa, acara diundur sedikit karena ada petugas yang masih menjalankan tugas mulia lainnya. Mas Yusfidli yang dinobatkan sebagai pemegang kendali musik hari itu harus rela terlambat karena tiba-tiba ada tugas lain di luar skenario (anggap saja begitu, biar dramatis). Mas Hidayat berkelakar “biasanya yang ditunggu inspektur upcara. Jarang-jarang musisi bisa menunda upacara dimulai”.

Sekitar jam setengah sebelas, ruangan sudah hampir penuh, suasana mulai tenang. Mbak Ida memandu acara dengan baik. Upacara Bendera ala Wollongong segera dimulai. Menggelegarlah suara Komandan Hidayat yang memimpin penghormatan terhadap Sang Saka Merah Putih yang dibawa dengan gagah oleh Mas Rifai. Saat Sang Merah Putih memasuki arena, berkumandanglah lagu Indonesia Raya dari seluruh hadirin diiringi dengan musik elektronik dan biola dari putra putri Pak Herjoko. Sejujurnya ada rasa haru dan bangga menyaksikan simbol negara berkibar di tanah asing. Entahlah dengan peserta lain, saya merasakan gemuruh yang tidak biasanya. Sudah beberapa tahun tidak upacara bendera, kini terasa berbeda. Mengingat masa-masa jadi petugas upacara di sekolah, saya menhormat bendera dengan khidmat. Selepas gemuruh semangat nasionalisme, kami diajak menundukkan kepala dalam hening cipta mengingat lagi perjuangan para pendahulu kita. Syahdu, tenang, damai dan mengharukan.

Beberapa menit kemudian, bergema suara Pak Herjoko membacakan Naskah Proklamasi dengan warna suara yang tidak kalah wibawa dengan Bung Karno. Wartawan serba bisa ini menghadirkan suasana kebatinan saat detik-detik proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta 67 tahun silam. Berikutnya para hadirin mengucapkan sila-sila Pancasila, menirukan suara yang saya rasa begitu familiar. Oh tentu saja, itu suara ;saya sendiri. Sungguh bersyukur dipercaya oleh panitia untuk membacakan Naskah Pancasila dalam momen istimewa itu.

Tidak ada upacara tanpa amanat pembina upacara. Hanya saja, kali ini yang memberi sambutan atau amanat tidak hanya satu orang tetapi tiga orang. Mas Akhum, memulai sambutan mewakili PPIA Wollongong. Mas Akhum yang penuh dengan senyum, seperti biasa, memberikan sambutan ringan dan singkat. Isinya berterima kasih pada semua pihak yang terlibat. Bintang iklan AHM ini menyelingi sambutannya dengan berbagai kelakar khas anak muda. Selepas itu, Presiden Jamaah Pengajian Illawarra (JPI) melanjutkan dengan sambutan kedua. Pak Miftadi memulai dengan salam berbagai agama, termasuk Om Suastyastu. Pembukaan yang cantik itu menjadi nafas bagi sambutan beliau yang menegaskan kerinduannya akan persaudaraan lintas SARA di Indonesia. Apa yang terjadi di Wollongong saat itu nampaknya menjadi satu bukti kerukunan bahwa perbedaan itu, jika diterima dan dihormati, akan melahirkan keindahan.

Pak Buyung selaku wakil dari komunitas residen Indonesa di Wollongong menyampaikan sambutan terakhir. Berbeda dengan dua sambutan lainnya, beliau yang nampak paling siap dengan naskah. Maklum, dosen dan peneliti, tidak bisa bicara tanpa referensi. Saya yakin ada beberapa footnote di naskah pidato beliau (mudah-mudahan tidak menggnakan sistem AGLC). Pak Buyung menyampaikan pidato yang inspiratif dan diakui merupakan hasil riset semalam. Bukan karena beliau suka ‘SKS’ tetapi karena memang pemberitahuannya di saat injury time. Wajar saja, ini kan bukan notifikasi resign dari tempat kerja yang perlu minimal dua minggu. Mengakhiri pidatonya, Pak Buyung meminta hadirin memaklumi jika ada yang kurang pas. Beliau bersyukur bahwa ini hanyalah pidato, bukan sebuah tesis karena jika itu tesis dan salah, maka harus menulis ulang. Hadiri yang sebagian besar mahasiswa tentu menyambut kelakar itu dengan derai tawa. Sementara di salah satu pojok saya lirik ada sebentuk wajah yang tersenyum setengah tertahan. Ketika saya tanya Mas Winda yang duduk di samping saya, orang itu ternyata adalah mahasiswa bimbingan Pak Buyung yang tidak lain dan tidak bukan adalah Mas Caesar yang tidak tinggal di istana itu. Tenang Mas Caesar, Pak Buyung tidak ada maksud apa-apa, itu hanya kelakar biasa saja.

Sambutan diberikan oleh tiga orang karena acara ini merupakan kolaborasi yang cantik antara tiga organisasi/komunitas yaitu PPIA, JPI dan residen Indonesia di Wollongong. Dengan berakhirnya sambutan itu, acara semi formal pun berakhir. Ada perasaan lega karena semua berjalan lancar. Mbak Ida berkali-kali meminta hadirin untuk tenang sebelum acara ditutup secara resmi. Maklum, para peserta sudah tidak sabar menyaksikan hiburan dan menyantap hidangan. Akhirnya dengan wibawa seorang dosennya Mbak Ida berhasil menenangkan hadirin sebelum kemudian menutup acara secara resmi.

Yang ditunggu-tungu pun tiba: hiburan sambil menyantap hidangan. Berupa-rupa makanan, minuman dan jajanan tersedia. Mulai dari Soto Banjar kreasi Mbak Indah yang legendaris sampai BBQ yang merupakan ciri khas Australia. Kue-kue juga beragam jenisnya. Kami semua berutang pada siapa saja yang telah merelakan waktunya untuk masak makanan yang mengundang selera itu. Sembari makan, hiburan mulai digelar. Mas Akhum selaku presiden PPIA membuka dengan membawakan lagu “Kasih” dengan aduhai. Saya yakin, Mas Akhum berani mendendangkan lagu itu karena Pak Timmy tidak hadir. Jika beliau hadir maka tidak satu orangpun berhak menyanyikannya karena pasti tidak lebih bagus dari Pak Timmy.

Mendengar Mas Akhum menyanyikan lagu, diam-diam nyali saya ciut. Saya yang sudah semangat membawakan lagu jadi tidak percaya diri. Moral cerita ini: jangan mau melakukan sesuatu nomor dua karena mudah ketahuan jeleknya. Saya berusa mengumpulkan semangat dan menghibur diri dengan meyakini bahwa suara Mas Akhum terdengar bagus karena kelihaian Mas Ari dan Pak Herjoko dalam menyiapkan tata suara dengan alat pinjaman Pak Timmy. Dalam kegundahan itu, tiba-tiba Mas Rifai yang sedari tadi menjadi MC hiburan bersama Fatia berinisiatif menyumbangkan lagu. Tentu saja kata “menyumbangkan” di sini berarti “menyanyikan”. Konfiks me-kan dalam kata “menyumbangkan” tidak berarti “membuat jadi”, percayalah. Berbeda dengan lagu Mas Akhum, lantunan lagu Mas Rifai “Kamulah Satu-satunya” yang dipersembahkan untuk istrinda tercinta, Mbak Ida, justru membuat saya semangat lagi untuk bernyanyi. Terima kasih Mas Rifai.

Baru saja saya semangat, tiba-tiba ada “Rossa” muncul mengambil alih lagu ayat-ayat cinta yang sedang dilantunkan secara kreatif oleh Mas Rifai menyusul “Kamulah satu-satunya”. Istilah kreatif bisa dipakai jika seseorang melakukan sesuatu dengan inovasi, tidak mengikuti aturan baku tidak sesuai aslinya. Seperti kata Mas Rifai, cara menyanyi yang ‘kreatif’ itu semata-mata untuk memancing penyanyi aslinya agar muncul dan ternyata “Rossa” benar-benar muncul. Saya sebut saja Rossa karena suaranya memang mirip sekali. Penampilannya juga. Sayang sekali, keindahan yang sedemikian rupa itu justru membuat nyali saya ciut lagi. Sayapun berusaha menenangkan diri.

Selepas “Rossa” tiba-tiba ada seorang tamu yang membawakan lagu dengan indah menawan. Mirip sekali dengan aslinya. Tamu ini, yang terus terang saya lupa/tidak tahu namanya, membawakan lagu dan memukau penonton. Meski bertepuk tangan riang gembira, ada kekalutan dalam hati saya. Semakin sadar kualitas diri. Tiba-tiba saya berharap Mas Rifai menyanyi lagi agar semangat saya tumbuh lagi.

Tidak hanya yang besar, anak-anak pun turut menghibur. Adara dan teman-temannya membawakan lagu ‘someone like you’ dari Adelle dengan catiknya. Lagu patah hati itu memberi semangat berbeda di tengah suasana makan siang yang semarak. Sementara itu aroma daging kambing dan hidangan BBQ lain di belakang ruangan menjadi latar belakang yang menggoda. Tidak berhenti aliran makanan dan minuman dari belakang ke ruang panggung karena peserta tidak ingin menikmati makanan tetapi ketinggalan hiburan.

Tibalah yang saya tunggu-tunggu, Mbak Ani yang kabarnya dari Pantura membawakan Perahu Layar yang gosipnya dari Trio Macan. Mbak Ani membuka dengan ucapan-ucapan layaknya penyanyi professional. Tetapi saya tidak melihat dandanan layaknya Trio Macan. Rupanya itu gossip belaka dan Perahu Layar adalah lagu Jawa yang adiluhung. Saat didendangkan, Mas Akhum dan Pak Herjoko tidak tahan menahan godaan. Beliau berduapun berjoged dan menjadi vocal tamu yang kadang-kadang terdengar seperti vocal “tuan rumah” karena mendapat porsi dominan. Rupanya mbak Ani tahu betul bagaimana menjamu ‘tamu’nya dalam bernyani. Dengan goyangan2 kecil yang sopan namun mengundang penasaran, Perahu Layar dilantunkan dengan apik.

Banyak hiburan yang memukau. Kini tiba giliran saya. Saya harus bernyanyi karena sudah diumumkan di milis. Sebenarnya banyak yang tidak tahu kalau ini hasil todongan Mas Caesar yang sebelumnya SMS saya yang kira-kira berbunyi “mohon menyumbangkan lagu, lagunya bebas saja, tapi 11 januari juga boleh”. Awalnya saya tersanjung karena rupanya masyarakat Wollongong sudah mengidentikkan saya dengan 11 Januari. Saya pikir 11 Januari dan Andi adalah seperti Kasih dan Pak Timmy. Belakangan baru sadar, rupanya tidak begitu tapi karena orang-orang sudah tahu saya tidak bisa nyani lagu yang lain. *Sadarlah.

Untuk memberi sedikit kejutan, saya memaksakan diri membawakan lagu “Akhirnya” untuk memberi nuansa menyentuh pada Idul Fitri. Tapi saya tentu tidak bisa lepas dari Gigi sehingga saya membawakan “Akhirnya” versi album rohani Gigi. Sementara itu orang-orang tidak tahu kalau semalam sebelumnya saya harus begadang latihan didampingi Mas Yusfidli. Sengaja saya datang ke rumah beliau malam-malam agar tidak banyak orang yang melihat. Intinya, tidak ada yang tiba-tiba. Sebagai amatir, saya perlu latihan keras dan berkali-kali.

Seperti bisa diduga (ceah), begitu banyak paparazzi yang mengabadikan momen istimewa itu. Saya berusaha tenang dan tidak terkejut. Padahal banyak yang tidak tahu subuh-subuh tadi saya titipkan satu dolaran untuk masing-masing orang agar pura-pura histeris. Musim kampanye begini, money politics bisa diterapkan di pertunjukan ternyata. Yang mendapat ‘dana kampanye’ paling banyak tentu saja Mbak Tuti’ yang sampai rela mempersembahkan balon untuk saya. Terbayang kebesaran hati beliau mau diperdaya teman-temannya. But still, mengharukan. Saya sempat panik, mau dibawa ke mana balon itu. Untunglah ada Chiara yang cantik dan imut mengambil alih. Selama acara kemarin, Chiara jadi peserta favorit saya. Thanks Om Iwan dan Mbak Icha, you both did a great job to raise such a wonderful Chiara. Ingat Chiara, ingat Simba, ingat Lion King. Akuna matata!

Yang istimewa dari acara hiburan siang itu adalah hadirnya penyanyi A-sing star, Renae Crossing, melantunkan lagu terlalu cinta dari Rossa dengan cantiknya. Tentu saja tidak setiap hari kita bisa melihat seorang bule membawakan lagu Indonesia dengan fasih dan merdu. Renae rupanya memang pernah menjuarai A-sing Star di salah satu stasiun TV swasta tanah air ketika dia berada di Indonesia dalam rangka studi/pertukaran mahasiswa. Renae adalah mahasiswa lokal di Wollongong yang memiliki ketertarikan besar pada Indonesia. keterlibatannya di komunitas Indonesia tentu memuaskan rasa penasaran dan mengobati kerinduannya.

Tidak ketinggalan, Bli Dodiek, salah satu vokalis andalan Wollongong, kembali menunjukkan kebolehannya dengan membesut “I Have a dream” dari ABBA. Dari pilihan lagu tentu mudah menebak angkatannya (peace Bli Dodiek). Nada-nada tinggi dibawakan dengan begitu baik, semakin menegaskan bahwa beliau memang seorang vocalis kenamaan. Ada gossip mengatakan Bli Dodiek sejatinya adalah vocalis Superman is Dead tapi karena kesibukannya mengajar dan mengurus maintenance Bandara Ngura Rai sebagai seorang civil engineer, akhirnya posisinya digantikan oleh Bobby Kool. Bli Dodiek, jika merasa dirugikan dengan pemberitaan ini, silakan lakukan klarifikasi😀

Kualitas suara Bli Dodiek yang prima ternyata memikat Renae sehingga kemudian meminta Bli Dodiek untuk berduet dan membawakan “my heart will go on” yang menjadi ikon Titanic. Diam-diam saya merasa menjadi Jack Dowson yang mendekap Rose Duwitt Bukater di anjungan Titanic dan mendengarnya berteriak histeris “Jack I am flying”. Penjiwaan keduanya begitu terasa, untung tidak ada yang sampai menitikkan air mata.

Sementara itu, lalu lalang peserta tidak berhenti keluar masuk ruangan karena di luar sana ada kesibukan yang menggoda: BBQ. Aroma BBQ yang mengundang selera dan lantunan lagu yang enak di telinga jadi paduan sempurna. Saya sendiri sempat menikmati bubur sumsum yang aduhai setelah menyantap beberapa potong daging kambing bakar. Konon daging kambing bisa bikin sakit “maaaah”, tapi saya dinasihati bahwa itu tidak apa-apa karena sebentar lagi akan bertolak ke tanah air (bagian cerita ini sengaja dipenggal karena tidak cocok untuk anak-anak di bawah umur).
Acara hiburan juga diselingi dengan pembagian hadiah untuk anak-anak. Para juara yang saya lupa detilnya mendapat hadiah dari panitia. Beberapa tokoh masyarakat diminta menyerahkan hadiah seperti Pak Ruslan, Pak Nadir, Pak Miftadi, Pak Buyung dan lainnya. Yang menarik adalah ketika Umam, putra Pak Pipit menunjukkan kreativitasnya dengan aksi mogok yang kocak. Tapi itu berlangsung hanya sebentar karena selanjutnya Umam sudah bergabung dengan teman-temannya sesama pendekar cilik mempertontonkan kebolehan bela diri di bawah asuhan Pak Herjoko. Terlihat banyak anak-anak lelaki dan perempuan berpakaian putih-putih memeragakan berbagai gerakan bela diri Perisai Diri (PD). Satu demi satu melakukan tendangan dan pemukulan berbagai gaya dengan Pak Herjoko bersama tamengnya sebagai sasaran. Saking serunya, Chiara pun iku mencoba tendangan mautnya yang mengundang tawa hadirin. Kalau melihat anak-anak kecil berkreativitas seperti itu, saya ingat Lita, anak saya. Wajar, yah biasanya ingat anak sendri kalau melihat anak kecil. Tapi kalau melihat… (bagian ini juga disensor). Dari yang hadir juga nampak teman-teman WN Australia yang memiliki ketertarikan atau hubungan darah/cinta dengan Indonesia. Ada James yang pernah belajar di UGM, hadir dengan batiknya, ada juga para suami dari para istri yang merupakan orang Indonesia. Tentu saja hadir pula putra putri mereka yang cantik dan tampan seperti umumnya ‘wajah Indo’. Kalau di Indonesia, dalam sekejap pasti jadi bintang sinetron. Minimal jadi bintang iklan🙂

Dari awal sampai akhir semangat terjaga dengan sangat baik. Panitia gembira, peserta yang hadir juga puas dan bahagia. Atau kalaupun ada yang kecewa itu karena saya fokus pada keceriaan sehingga kurang awas merekam kesedihan dan kekecewaan. Yang tidak tertarik dengan hiburan menemukan tempatnya yang nyaman di belakang ruangan di sela kepulan asap BBQ yang memang sayang untuk ditinggalkan. Ada juga tentunya yang menemukan keasyikan membolak balik daging bakar serta sate lalu menghidangkan kepada siapa saja yang bersedia. Mas Ervin dan Mas Yusuf bahkan membawa hidangan BBQ ke dekat panggung dan menyuguhi para penonton dengan hidangan lezat. Alangka enaknya menonton sambil disuguhi BBQ seperti itu.

Pak Fahmi yang mewakili Konjen Sydney juga didaulat menyampaikan sambutannya sesaat setelah menyantap BBQ. Saat wajah beliau masih memerah karena habis menyantap sepotong daging, Mas Rifai mempersilakan beliau untuk memberikan pesan dan kesan singkat. Pak Fahmi membuka dengan kelakar, tidak ada makan siang gratis memang karena sesaat setelah makan siang sudah ditodong untuk member pidato. Peserta tentu saja terderai tawanya. Staf Konjen Sydney dari tahun ke tahun memang menjalin hubungan yang sangat baik dengan masyarakat Wollongong. Seperti para pendahulunya Pak Fahmi telah menujukkan kedekatan yang sangat baik dengan masyarakat.

Jika saya teruskan laporan ini maka dia bisa mengalahkan disertasi panjangnya. Saya hentikan saja sampai di sini karena yakin tidak akan ada examiner yang menyalahkannya. Kalaupun salah, saya tentu tidak bersedia untuk menulis ulang. Maka dari itu, mohon para pembaca untuk memberi penilian “lulus tanpa koreksi” terhadap tulisan ini agar saya bisa segera kerja untuk tulisan lain yang wajib sifatnya. Selamat Idul Fitri bagi sahabat Muslim dan Dirgayahu RI ke-67. Kami adalah insan bangsa yang bangga.

Ditulis di kereta Wollongong-Sydney, pesawat Sydney-Taiwan, dan sebuah ruang hotel yang sunyi di Taipei

PS. Laporan ini adalah pandangan pribadi yang subyektif dari I Made Andi Arsana. Jika ada kekeliruan mohon maaf dan mohon kesediaannya untuk mengoreksi.


Responses

  1. Wah Bli Andi matur Suksma, saya hari itu lagi jemput istri dan anak di Bandara Sydney, dengan membaca ini saya salut atas rekaman indra Mas Andi yang dapat saya serap melalui indra dalam menangkap suasana di acari tersebut. Salut dan bangga dengan Mas Andi.

  2. Lain kesempatan jangan pernah merasa tidak bersedia karena saya beri “tjap” ‘lulus tanpa koreksi’.

  3. Saya tidak menyadari dan akhirnya tulisan ini saya baca ulang keseluruhannya. kalau kualitas penulsnya enggak sekaliber Bli Andi rasanya pembaca ingin segera mengakhiri, lalau apa tipnya: menangkap moment sekejap bisa cerita menjadi sangat lengkap dan bisa membuai pembaca untuk enggak merasa puas kalau enggak sampai selesai?
    Bisa share kiranya.

    Salam,

    Sam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: